Perjalanan Untuk Menemukan Diri Ku, Sekali Lagi
Belum selesai rasa sakit ku atas kehilangan mu hidup menghadiahi ku dengan duka baru, seseorang yang telah mengenalku seumur hidupku pergi memeluk keabadian-Nya, tidak mudah untuk ku terima meskipun ini bukan pertama kalinya. Memang mungkin manusia tidak akan pernah terbiasa akan hal-hal yang membuatnya terluka meskipun itu semua adalah sebuah kepastian yang sudah ditetapkan oleh Pencipta. Semua itu membuat ku seperti selongsong kosong yang hidup hanya karena belum saatnya saja, tubuh ku masih bekerja, hari ku pun masih berjalan seperti biasa tapi aku tidak sungguh hadir di sana, kesadaran ku akan hidup entah sedang pergi kemana.
Hidup memang perihal merelakan sambil menunggu giliran, tapi untuk saat ini semua terasa begitu menyesak-kan. Sudah tidak ada air mata yang tersisa, hal-hal kecil yang biasanya membuat ku bahagia kini terasa biasa saja, bahkan untuk sekedar melihat makna saja aku sudah buta, sudah tidak ada apapun yang tersisa hanya ada kehampaan yang luar biasa. Sungguh aku membutuhkan jeda, sebuah tanda koma sebelum aku mati rasa.
Telah ku relakan hal-hal yang sudah tidak bisa lagi ku perjuangkan dan tidak ada gunanya mempertanyakan takdir Tuhan, kini tinggal perihal bagaimana aku ingin melanjutkan. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk sembuh dan membasuh maka malam itu aku berkemas lalu naik kereta entah kemana akan ku ikuti saja, yang aku tahu aku harus meninggalkan semuanya sementara. Menjauh dari segala macam hiruk pikuk dunia untuk menyelamatkan apa yang tersisa dan kembali menemukan diriku yang telah habis ditelan duka.
Kini tiba saatnya untuk melihat ke dalam diri dan mengevaluasi agar lebih ku pahami orang seperti apa yang ku inginkan untuk diri ku menjadi.

Comments
Post a Comment